Rabu, 18 Februari 2015

Ikan dan Dian

Aku dan Brima menangkap figurmu yang tengah berdiri diujung kantin bersama Rodrik,
“lo tau kan Dian suka gonta-ganti laki.”
“iya gue tau.”
“lah terus kenapa lo masih disini-sini aja, bro, coba cari yang lain, ikan dilautan masih banyak juga.”
Untuk sekian kalinya aku menghela nafas dan memijat keningku, berapa kalipun aku menjelaskan, tidak akan ada yang memahaminya.
“gue gamau ikan, bro, gue maunya doi, lagian gue kan gabisa berenang.”
Brima menenggelamkan wajahnya ke telapak tangannya,
“hei, Sam!,” sapamu dari tempatmu berdiri. Dan aku menangkap pandangan Rodrik yang menjadi sinis saat kamu menyapaku,
Dian adalah sahabatku SMA, yang berarti kami telah 4 tahun bersahabat. Dan selama itu pula aku menyimpan rasa yang lebih untuknya. Sampai suatu ketika aku paham, jika Dian tidak pernah bisa bertahan lebih dari 3 bulan dengan kekasihnya. Dan disaat itu juga, aku memutuskan untuk tidak memaksakan perasaanku.
“Dian! Sini deh, gue bawain burger kesukaan elo!.”
----
8 tahun menjadi sahabatmu. Ku habiskan 5 tahun untuk menunggumu menyadari perasaanku, yang ternyata kamu telah menyadari dari hari pertama.
“iya lah, mana ada orang yang mau nerima gue setelah tau semua skandal gue kalo bukan elo.”
Ucapmu saat aku menanyakan kenapa akhirnya kamu memilihku yang berada disampingmu sekarang, disela-sela menerima ucapan dari selamat para tamu. Tidak kulupakan betapa menawannya dirimu dalam balutan kebaya berwarna emas dan rona wajahmu yang membuatku terkesima dari awal kumelayangkan pandanganku ke arahmu.
“lo tau Sam, wajah lo ga bisa bohong.”
“ga bisa bohong apa?”
“kalo lo tau, lo tau kalo sampe sisa akhir hidup lo, lo terjebak sama gue.”
“lah yang kemarin-kemarin itu?”

“anggep aja gue khilaf.”
"lo emang satu-satunya ikan buat gue."

Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari Tiket.com  dan nulisbuku.com  #TiketBaliGratis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar