Senin, 14 September 2009

Amethyst BAB 1

Hari Ini adalah hari puasa yang ke 18. 12 hari menjelang lebaran. Suasana salah satu komplek perumahan ibukota siang itu, begitu teduh. Suasana begitu sepi dan nyaman. Matahari tidak terlalu panas dan hawapun tidak terlalu dingin. Banyak orang yang mudik. Tapi, di 3 buah rumah yang berderet itu, tidak pernah sepi dengan suara tawa, tangis, dan teriakan anak kecil. Lebih tepatnya 3 orang anak kecil. Masing-masing anak dari keluarga yang berbeda. Mereka tinggal sekomplek. 3 pemilik rumah itu lebih memilih berlebaran dirumah daripada pulang kampung. Katanya sih, keluarga mereka masih tinggal dideket-deket ibukota dan mereka emang ga punya desa.

“eh nyet, lepas donk layangannya waktu gue bilang lepas!,”

teriak seorang gadis kecil.

“gue bisanya maen kelereng, enakan juga maen kelereng!,”

bela si pemegang ujung layang-layang.

“gue punya ide bagus!,” cetus gadis kecil itu.

“apa an?,” kedua laki-laki kecil itu serempak.

“gimana kalo’ kita main rumah-rumahan, ntar jojon jadi maminya, gue jadi bokapnya, dan elo,tang, yang dari tadi kebanyakan protes…lo lebih cocok jadi anaknya!, deal??”

Suasana hening

“ya udah, ya udah, ayo terbangin lagi layang-layangnya.”

Gadis kecil yang berkulit kuning langsat. Rambut Mengeriting gantung sebahu yang ia biarkan tergerai membuat kesan bahwa gadis kecil itu adalah perempuan tomboy.

“heh tang, yang bener napa!.”

“iya-iya,nyet!,” ledek seorang pria kecil yang memegang ujung samping layang-layang.

Kamera yang ia gantungkan dileher membuat dirinya sendiri akhirnya terbelit benang layang-layang.

“oke bapak presiden, buktiin lo bisa nerbangin nih layang-layang.”

“bu mentri, jangan banyak ngecepret, langsung terbangin!.”

“elo berdua ribut banget sih!, gue kan jadi ga konsen!,

suara lo gede banget sih, nik!” teriak seorang pria kecil yang berada dibawah pohon. Dia sedang sibuk melukis dikanvas.

Ga salah sih kalo’ gadis kecil itu terkesan tomboy.Dia ga pernah bisa bersikap layaknya seekor cewek,Gimana bisa?, kan sobatnya cowok semua. Di sekolahpun, dia lebih nyaman bergerombol dengan teman cowoknya.

“suara gue selalu keras gara-gara elo berdua tuh cowok!,” dengus gadis kecil itu.

“enak aja kita disalahin!, elo tuh yang nyalahin kodrat, liat

donk badan elo!, lo kan punya dada sedangkan kita?,” tangkis pria kecil yang masih memegang layang-layang dan mengutak-atik kameranya.

“kita kan ga punya, nik,” sahut pria kecil yang satu lagi sambil

satu tangan memegang Dadanya sendiri dan satu lagi sedang melukis.

Gadis kecil itu wajahnya tampak semu-semu merah. Entah malu atau marah.

“elo juga punya ko’,jon,” celutuk pria kecil satulagi.

“enak aja,” jojon manyun

“Tang, emangnya elo ga bisa liat dibadan elo?, dada elo ada

3!, dua diatas satu diperut,” ledek Monik. Gadis kecil itu.

Jojon terbahak

“katawa sono lo!,” teriak Bintang sambil cemberut.

Dan darisanalah persahabatan mereka mulai. 3 orang sahabat kecil yang punya nama Jojon, Monik, dan Bintang. Rumah mereka memang secara urut berjejer. Dimulai dari arah barat ke timur yaitu rumah Bintang, Monik, dan jojon. Hubungan antara Orang tua mereka emang deket. Tapi dengan orang tua Bintang sih gag terlalu deket. Orang tua Bintang kebanyakan keluar kota bahkan keluar negeri untuk ngurusin bisnis eksport papanya. Sebulan sekali orang tua Bintang balik. Waktu ortu Bintang balik pasti Monik ama jojon yang paling seneng. Bintang dibawain berbagai mainan dari tempat-tempat yang dikunjungi ortu Bintang dan beberapa dibagi ke Monik atau jojon. Maklum si Bintang kan anak tunggal. Bagi Bintang, banyak mainan itu gak ada artinya kalo’ sahabatnya ga bisa nikmatin mainannya. Makanya mereka berdua seneng banget kalo kedapetan imbasnya. Tapi, bukan berarti persahabatan mereka dengan Bintang dekat gara-gara harta yang dipunya Bintang, Bintang sendiri pinter buat jadi sahabat yang bener-bener baek buat mereka.

“ayo ah Tang, yang bener!, udah hampir tengah hari nih,

layangan belum terbang juga, elu sih, Tang,” kata Monik sambil melempar kerikil ke arah bintang.

“makanya mulut elo jangan ngecepret mulu,” balas Bintang.

“udah ah!, Nik sekarang giliran elo yang ngelukis!, ini kan

aslinya tugas elo, bukan tugas gue!, mana coklat gue!, gue sekarang yang maen ama Bintang!.”

“eh belon selese minta coklat, enak aja!, selesein dulu!,

Sekarang masih gue yang maen.”

“Barang barang gue!, terserah gue donk!, udah selesein

Sendiri!, SONO!,”jojon berdiri dari depan kanvasnya dan merampas kasar benang layang-layang yang dipegang Monik.

“elo kaya’ anak kecil tau ga?,” bentak Monik.

Monik berjalan kekanvas dibawah pohon. Bintang dicengkeram jojon. Jojon memaksa dia buat megangin ujung layang-layang dan ga sampai 5 menit, layang-layang udah mulai terbang bersama angin.

Suasana jadi hening kembali, biasalah kalo’ anak kecil sensi.

“gue lemparin ANJING, ya?, biar agak ramean dikit,” tawar

Bintang Dengan suara yang ga bisa dibilang pelan dan penekanan kata di si anjing

“BINTANG!.”

Terdengar suara ibunda jojon dari dalam rumahnya. Beliau keluar sambil memegang pisau.

“kamu ngomong apa ya, Tang?,” tanya ibu jojon sambil

menenteng-nenteng pisau.

“nggak tante, nggak, tante salah denger kali!,”ujar bintang

Ketakutan.

“BINTANG.”

“ampun-ampun tante, ga lagi-lagi, aduh tante, pisaunya sanain,

Bintang ngeri ni…, masa’ cuman gara-gara kelepasan ngomong tante mau bunuh Bintang si?.”

Bunda jojon menurunkan pisaunya yang hampir diarahkan ke Bintang. Tepat disebelahnya. sambil senyum-senyum ibu jojon bilang,

“siapa yang mau bunuh kamu?, ge er!, kan tante mau minta

daun pandan yang ada dihalaman belakang rumah Monik buat bikinin kalian kolak, Monik mama ada?.”

“ada tante, masuk aja!.”

Bintang masih sedikit gemetaran. Monik menatap lukisan jojon secara seksama. Sesaat kemudian ia terbengong-bengong.

“lu sadar ga sih Nik?,” teriak Bintang tepat di samping telinga

Monik.

“lukisannya ,deep,AJIB!,” kata Monik sambil tetap memelototi

lukisan jojon.

Lukisan jojon terdiri dari 2 anak kecil yang berlainan jenis kelamin yang lagi maen layang-layang. Cuman yang cowok gambarnya memotret perempuan yang bermain. Jojon berani banget buat maenin warna. Dan dibawahnya tertulis,

Aku disini sendiri berteman sepi,

terpisah jarak kau dan aku,

hanya bayangmu yang menemani

Jojon mengikatkan benang layang-layang disalah satu ranting. Dia mendekati Monik. Bintang berdiri disamping kiri sedangkan jojon berdiri didepan Monik. Monik melihat kelangit biru. Dia tersenyum.

“ngapain lo senyum?,” tanya jojon.

“iya nih?, otaknya agak miring!,” tambah Bintang.

“ehm, lo kan ngelukis aliran realisme, elo mustinya nih layang-

layang ga gue pegang tapi ada disini, sekalian benangnya!,”kata Monik sambil menunjuk bagian langit lukisan jojon.

“tapi kan tadi elo pegang.”

kan dah lo rampas!, trus dengan bodohnya ,lo iket di salah

satu ranting yang paling kecil, jadinya pindah kesini, benangnya juga!,” kata Bintang ikut menyumbangkan suaranya sambil menunjuk awan lukisan jojon.

“jangan-jangan…” jojon berbalik badan, dan menemukan benang

layang-layangnya yang udah ga ada diranting. Saat dia melongok kelangit,layang-layangnya terombang-ambing dilangit. Terbawa angin.

“waaaaahhhhhh, layangan gua…”

Jojon memelototi monik.Suasana tegang

“makanya, maen kelereng aja.” kata Bintang datar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar